Jangan Membungkus Perselingkuhan dengan Dalih Takdir
Assalamualaikum,
Hai,
Celotehnisa.com | Jangan Membungkus Perselingkuhan dengan Dalih Takdir - Pernah tidak, kalian mendengar kisah tentang dua orang yang awalnya menjalin hubungan diam-diam, padahal salah satunya masih menjadi pasangan orang lain, lalu pada akhirnya mereka menikah? Setelah resmi menjadi suami istri, muncullah kalimat yang terdengar begitu manis, “Kalau memang sudah jodoh, pasti akan dipersatukan. Semua sudah menjadi takdir Allah.”
Hmm, sebentar. Rasanya ada yang perlu diluruskan dari cara memahami takdir seperti ini.
Saya percaya bahwa jodoh, rezeki, dan ajal merupakan bagian dari ketetapan Allah. Namun, bukan berarti segala cara yang ditempuh manusia untuk mendapatkan sesuatu bisa dibenarkan hanya karena pada akhirnya sesuatu itu berhasil dimiliki.
Apalagi kalau jalan yang ditempuh harus melewati pengkhianatan, kebohongan, dan air mata orang lain.
Jangan Membungkus Perselingkuhan dengan Dalih Takdir
Takdir bukan alasan untuk membenarkan kesalahan.
Dalam Islam, kita mengenal konsep qada dan qadar. Kita percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Namun, manusia juga diberikan akal, hati nurani, dan kemampuan untuk menentukan pilihan. Setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Jadi, ketika seseorang memilih untuk berselingkuh, menyembunyikan hubungan, atau mengkhianati kepercayaan pasangannya, itu tetap merupakan tindakan yang salah. Pernikahan yang terjadi setelahnya tidak otomatis menghapus kesalahan yang pernah dilakukan.
Menikah memang sesuatu yang baik. Namun, bukan berarti semua jalan menuju pernikahan menjadi baik pula.
Lucunya, terkadang manusia begitu mudah membawa nama takdir ketika sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Seolah-olah keberhasilan mendapatkan orang yang diinginkan merupakan bukti bahwa semua tindakan sebelumnya telah mendapat pembenaran dari Tuhan. Padahal, sesuatu yang akhirnya menjadi milik kita belum tentu diperoleh dengan cara yang diridai-Nya.
Saya jadi berpikir, mengapa manusia terkadang begitu sibuk merayakan kebahagiaannya sendiri sampai lupa bahwa mungkin ada hati yang pernah dihancurkan dalam prosesnya?
Ada orang yang harus belajar menerima pengkhianatan. Ada kepercayaan yang rusak. Ada keluarga yang mungkin kehilangan keutuhannya. Ada pula luka yang tidak serta-merta sembuh hanya karena orang yang menyebabkannya sudah melanjutkan hidup dengan bahagia.
Sementara itu, mereka yang pernah menjadi penyebab luka bisa saja tampil seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Mengunggah kebahagiaan, menuliskan kalimat penuh syukur, bahkan menyebut perjalanan cintanya sebagai skenario indah dari Allah.
Tentu, tidak ada yang salah dengan bersyukur atas kehidupan yang dijalani. Namun, rasanya kurang bijak jika rasa syukur itu digunakan untuk menutupi kenyataan bahwa pernah ada tindakan yang menyakiti orang lain.
Lalu, bagaimana dengan karma?
Saya tahu, dalam ajaran Islam kita lebih mengenal konsep balasan atas amal perbuatan daripada karma. Namun, dalam percakapan sehari-hari, kata karma sering digunakan untuk menggambarkan bahwa setiap tindakan memiliki akibatnya masing-masing.
Bagi saya, ungkapan karma hanyalah soal waktu menjadi pengingat bahwa tidak semua konsekuensi datang seketika.
Hari ini seseorang mungkin terlihat bahagia. Hidupnya tampak baik-baik saja. Segala sesuatu berjalan seperti yang diharapkan. Namun, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya?
Bukan berarti kita boleh memastikan bahwa orang yang pernah menyakiti pasti akan mengalami penderitaan yang sama. Kita tidak punya kemampuan untuk membaca masa depan, apalagi menentukan bagaimana Allah memberikan balasan kepada hamba-Nya.
Hanya saja, saya percaya bahwa tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengetahuan Allah.
Dan terkadang, konsekuensi dari sebuah pilihan tidak selalu hadir dalam bentuk kehilangan atau penderitaan. Bisa saja berupa kegelisahan, hilangnya kepercayaan, atau kesadaran yang datang ketika waktu sudah berjalan begitu jauh.
Entahlah. Kita tidak pernah benar-benar tahu. Biarlah urusan balasan menjadi urusan Allah.
Kita cukup belajar bahwa tidak semua yang berhasil kita dapatkan layak dibanggakan prosesnya. Tidak semua yang berakhir dengan pernikahan bisa disebut sebagai kisah cinta yang patut diteladani.
Dan tidak semua yang terjadi atas izin Allah berarti mendapatkan rida-Nya.
Karena takdir memang milik Tuhan, tetapi pilihan dan perbuatan tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Salam hangat dari Celoteh Nisa. Sekadar menuliskan apa yang terlintas di kepala, sambil menikmati secangkir es kopi😊

