Puisi; Jeda
5/16/2026 08:33:45 PM
Dipublikasikan
6/29/2025 09:55:00 PM
Assalamualaikum,
Hai,
Celotehnisa.com | Puisi: Jeda - Tulisan ini lahir dari ruang sunyi, saat malam terlalu panjang dan lelah tak punya tempat pulang. Karena pada akhirnya, tak semua luka butuh penonton. Kadang, cukup satu pelukan yang tak datang-datang… dan sebaris kata yang mampu menyelamatkan.
Jeda
Aku sadar
menjauh dari mereka yang pernah dekat
bukan perkara mudah
bisa saja mungkin dianggap pongah
tapi kadang...
hati butuh ruang
tanpa basa basi
Aku diam,
bukan karena lupa
menjauh dari mereka yang pernah dekat
bukan perkara mudah
bisa saja mungkin dianggap pongah
tapi kadang...
hati butuh ruang
tanpa basa basi
Aku diam,
bukan karena lupa
tapi karena luka ini terlalu dalam
untuk terus dijamah oleh mereka yang lalai
Sendiri
aku jalani hari demi hari
dengan langkah kecil dan doa yang tak pernah putus
tidak ada tangan yang menggenggam
tidak ada peluk yang bilang
"Semua akan baik-baik saja."
Aku tetap kokoh berdiri
demi binar kecil
yang selalu percaya
padahal kadang hampir runtuh
di antara cucian yang belum selesai
dan tangis yang kutahan sendiri
Keluh kesah?
Ada.
Tapi lebih sering dititipkan
pada langit malam dan sajadah sunyi
Kuharap Tuhan tahu
aku sedang berjuang
Aku tak janjikan hal indah yang dunia tawarkan,
tapi aku selalu berusaha
buat mereka merasa cukup
cukup dicintai
cukup dipeluk
cukup dimengerti
meski sederhana
Aku bertanya dalam hati yang pecah
Adakah kalian melihatku?
Bukan sebagai siluet yang kalian lewati
tapi sebagai ibu yang bertarung
dengan pilu yang tak tampak di permukaan
Aku tidak minta pujian
tidak pula belas kasihan
aku hanya ingin sesekali dimengerti
bahwa diamku bukan pasrah
tapi cara paling sunyi
untuk tetap waras
untuk tetap jadi rumah
Sendiri
aku jalani hari demi hari
dengan langkah kecil dan doa yang tak pernah putus
tidak ada tangan yang menggenggam
tidak ada peluk yang bilang
"Semua akan baik-baik saja."
Aku tetap kokoh berdiri
demi binar kecil
yang selalu percaya
padahal kadang hampir runtuh
di antara cucian yang belum selesai
dan tangis yang kutahan sendiri
Keluh kesah?
Ada.
Tapi lebih sering dititipkan
pada langit malam dan sajadah sunyi
Kuharap Tuhan tahu
aku sedang berjuang
Aku tak janjikan hal indah yang dunia tawarkan,
tapi aku selalu berusaha
buat mereka merasa cukup
cukup dicintai
cukup dipeluk
cukup dimengerti
meski sederhana
Aku bertanya dalam hati yang pecah
Adakah kalian melihatku?
Bukan sebagai siluet yang kalian lewati
tapi sebagai ibu yang bertarung
dengan pilu yang tak tampak di permukaan
Aku tidak minta pujian
tidak pula belas kasihan
aku hanya ingin sesekali dimengerti
bahwa diamku bukan pasrah
tapi cara paling sunyi
untuk tetap waras
untuk tetap jadi rumah
---------
CN, 29/06/25
Terima kasih 😊💛

